Nama :
Muhammad Aric Athallah
Kelas : XII
MIPA 2
No : 20
Sekolah : SMA N 16 SEMARANG
TUGAS
SEJARAH INDONESIA
1.
Faktor
penyebab terjadinya Pemberontakan PKI di Madiun 1948!
Jawaban:
1. Kekecewaan atas Perundingan Renvile
2. Kekecewaan atas rasionalisasi jumlah pasukan TNI
3. Hasutan dari Musso yang baru kembali dari Uni
Sovyet
2.
Faktor penyebab terjadinya G30S/PKI
1.akibat kurangnya rasa tunduk atau patuh terhadap
pancasila
2.kurangnya sifat kesatuan
3.tidak ada munculnya rasa perjuangan untuk melawan
tindakan idiologi yg mencampuri pancasila
4.tidak ada rasa cinta terhadap cinta tanah air satu
sama lain
5.dan tidak ada rasa kebersamaan
3
. faktor terjadinya andi aziz
1) Timbulnya pertentangan pendapat mengenai
peleburan Negara bagian Indonesia Timur (NIT) ke dalam negara RI. Ada pihak
yang tetap menginginkan NIT tetap dipertahankan dan tetap merupakan bagian dari
wilayah Republik Indonesia Serikat (RIS), sedangkan di satu pihak lagi
menginginkan NIT melebur ke negara Republik Indonesia yang berkedudukan di
Yogyakarta.
2) Ada perasaan curiga di kalangan bekas
anggota" KNIL yang disalurkan ke dalam Angkatan Perang Republik Indonesia
Setikat (APRIS)/TNI. Anggota" KNIL beranggapan bahwa pemerintah akan
menganaktirikannya, sedangkan pada pihak TNI sendiri ada semacam kecanggungan
untuk bekerja sama dengan bekas lawan mereka selama perang kemerdekaan.
3) Menuntut agar pasukan bekas KNIL saja yang
bertanggung jawab atas keamanan di Negara Indonesia Timur.
4. faktor penyebab terjadinya APRA,RMS,
RMS memproklamirkan
berdirinya Republik maluku selatan
APRA ingin mempertahankan negara dengan bentuk Federah ( RIS
= Republik Indonesia Serikat )
1. APRA
PENGERTIAN
APRA adalah
singkatan dari kata Angkutan Perang Ratu Adil.
Istilah Angkutan Perang Ratu Adil apabila disingkat yaitu menjadi APRA.
Akronim APRA (Angkutan Perang Ratu Adil) merupakan singkatan/akronim
resmi dalam Bahasa Indonesia.
Peristiwa
pemberontakan ini dipimpin oleh Kapten KNIL yang bernama Kapten Raymond
Westerling, dengan maksud untuk mempertahankan bentuk negera federal di
indonesia dan mempunyai tentara yang berdiri sendiri pada negara – negara
bagian Republik Indonesia Serikat ini. Asal usul dari gerakan ini awalnya
didasari denganadanya kapercayaan rakyat terhadap ramalan jayabaya yang
mengatakan bahwa akan adanya seorang Ratu Adil yang akan membawa
mereka ke dalam suasana yang aman dan tentram serta dapat mempimpin secara adil
dan bijaksana.
NAMA TOKOH
Raymond Westerling
ALASAN PEMBERONTAKKAN
Pemberontakan APRA diawali dari
pembentukan APRIS yang menimbulkan ketegangan antara TNI dan bekas tentara KNIL
ditambah dengan pertentangan politik antara kelompok yang ingin mempertahankan
bentuk negara bagian (yang didukung pihak APRA yang terdiri dari bekas tentara
KNIL) dan kelompok yang menginginkan negara kesatuan (didukung oleh TNI).
TANGGAL TERJADI
Peristiwa
Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil atau Kudeta 23 Januari adalah
peristiwa yang terjadi pada 23
Januari 1950 di
kota Bandung dimana kelompok milisi Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang ada di bawah pimpinan mantan Kapten KNIL Raymond Westerling yang juga mantan komandan Depot Speciale Troepen (Pasukan
Khusus) KNIL, masuk ke kota Bandung dan membunuh semua orang berseragam TNI yang mereka temui. Aksi gerombolan ini telah
direncanakan beberapa bulan sebelumnya oleh Westerling dan bahkan telah
diketahui oleh pimpinan tertinggi militer Belanda.
OPERASI PENYELESAIAN
Upaya pembasmian
APRA :
Pemerintah RIS membasmi gerombolan APRA ini dengan beberapa kesatuan polisi
dari jawa tengah dan jawa timur serta dan juga TNI. Terbukti, pada tanggal
24 Januari 1950 pasukan TNI berhasil menghancurkan gerombolan APRA ini. Dalam
peristiwa ini, Kapten Raymon Westerling kabur ke luar negeri menggunakan
pesawat Catalina milik AL Belanda.
2. RMS
PENGERTIAN
Pemberontakan Republik Maluku Selatan
(RMS) yang dipimpin
oleh Mr.
Dr. Christian Robert Steven Soumokil (mantan jaksa agung NIT)
merupakan sebuah gerakan sparatisme yang bertujuan bukan hanya ingin memisahkan
diri dari NIT melainkan untuk membentuk Negara sendiri terpisah dari RIS.
NAMA TOKOH
Mr.Dr. Christian Robert Steven
SOUMOKIL
ALASAN PEMBERONTAKKAN
Bermula ketika Urbanus Pupella, pimpinan
PIM mengeluarkan pernyataan tidak ingin masuk dalam federasi, tetapi mau
bergabung dengan Republik Indonesia. Adanya hal teresebut Mr. Christiaan
Soumokil, Jaksa Agung RIS yang anti-RI melakukan provokasi kepada pasukan-pasukan
khusus baret merah dan hijau asal Ambon ini. Kegiatan provokasi yang
dilakukan oleh Soumokil karena dibiarkan oleh Kolonel Schotborgh, Komandan
tentara Belanda di Makassar. Schotborgh juga menjadi penyebab terjadinya
kerusuhan di Makassar karena membiarkan Soumokil menghasut Kapten Andi
Azis melakukan aksi pemberontakan di Makassar.Ambon menjadi tegang dengan
kembalinya pasukan-pasukan khusus asal Ambon yang sebagaian besar terkena
disersi, giat melakukan konfrontasi dengan barisan PIM dari Pupella yang saling
berlawanan. Konflik di Ambon pun tidak terhindar pada 19 Februari 1950 terjadi
perkelahian antara anggota-anggota PIM yang pro-Republik dengan anti-Republik
yang di dukung oleh pasukan-pasukan khusus ini. Pada 12 Maret 1950,
anggota PIM, di datangi 10 orang anggota polisi yang langsung mengeroyok dan
menyiksanya. Begitu pula pada 17 Maret, anggota PIM didatangi anggota-anggota
polisi yang menyiksanya hingga pingsan.
di desa Wakasihu, pimpinan PIM setempat, Ohorella, dan ibunya juga harus mengalami
siksaan tidak manusiawi.
Selain itu, latar belakang penyebab munculnya RMS adalah ketidakpuasan
tokoh pendiri RMS dalam hal ini adalah Mr. Dr. Ch. R. Soumokil, dengan proses
kembali ke negara kesatuan setelah KMB. Gerakan ini menggunakan unsur KNIL yang
merasa tidak pasti terhadap kejelasan status mereka setelah KMB. Karena
ditentukan bahwa dalam waktu enam bulan setelah pengakuan kedaulatan itu,
tentara Belanda harus ditarik dari Indonesia dan KNIL dibubarkan atau
disalurkan ke TNI.
OPERASI PENYELESAIAN
Pemerintah Indonesia pada waktu itu (1950) menghadapi pemberontakan
RMS dengan tiga opsi:
· Opsi
pertama, penyelesaian secara damai dengan pembicaraan-pembicaraan.
Dimulai pada 27 April 1950 dengan mengirim Dr J. Leimena (menteri kesehatan
waktu itu), Ir Putuhena, Pellaupessy dan Dr Rehatta. Rombongan berangkat ke
Ambon dengan korvet Hang Tuah. Merapat pada 1 Mei 1950, sebuah higginboot
mendatangi Hang Tuah dengan Syahbandar Ambon sebagai pengantar surat yang
berisi penolakan. Rombongan akan memberi surat balasan, tetapi higginboot itu
telah diperintahkan untuk segera kembali, tak boleh menunggu. Leimena
menyatakan, “Kami sesalkan bahwa mereka tidak mau menerima
dan berbicara dengan kami yang datang melulu untuk merundingkan hingga soal
Maluku dapat diselesaikan dengan baik untuk kepentingan dan keselamatan seluruh
nusa dan bangsa. Saya persoonlijk merasa ini sangat menyedihkan” (Jusuf A Puar,
1956).
· Opsi
kedua bila opsi pertama tidak berhasil, dilakukan blokade laut untuk memaksa
mereka bersedia berunding.
Dengan cara membolkade laut, dilakukan pada 18 Mei sampai 14 Juli 1950.
Semua perairan Maluku diawasi dan kapal-kapal pemberontak dihancurkan. Pada 14
Juli diadakan pendaratan di Pulau Buru dan kemudian di pula-pulau lainseperti
Seram, Tanimbar, Kei, dan Aru. Opsi kedua ini pun tidak bisa
memaksa Soumokil bersedia berunding.
· Bila
opsi pertama dan kedua tidak berhasil, akan dilakukan opsi ketiga yaitu operasi
militer, seperti pendaratan dan lain-lain.
Operasi militer, dilakukan di bawah kepemimpinan Kolonel Kawilarang,
panglima Indonesia Timur saat itu. Operasi militer menumpas pemberontakan RMS
yang terkenal dengan Gerakan Operasi Militer IV atau GOM IV. Komandan pasukan
(brigade) adalah Letkol Slamet Riyadi. Rencananya: pasukan pertama didaratkan
di Hitu, kemudian pasukan kedua di Tulehu, lalu pasukan ketiga di Ambon (RZ
Leirissa, 1978). Mengingat persenjataan, sistem transportasi dan sarana
komunikasi yang belum secanggih sekarang ini, operasi berlangsung lama. Operasi
itu baru bisa mulai dilakukan September, dan baru Oktober APRI menguasai
jazirah Hitu. Akhirnya pada 4 November 1950 benteng Nieuw Victoria dapat
direbut APRI. Sisa-sisa angkatan perang RMS lari ke gunung dan banyak yang
melarikan diri ke pulau-pulau sekitar pulau Ambon. Pimpinan angkatan perang RMS
tertangkap
atau menyerah pada 1952. Soumokil sendiri baru tertangkap pada 1962
TANGGAL TERJADI
RMS terjadi pada tanggal 25 April 1950
3. Andi Azis
PENGERTIAN
Pemberontakan Andi Azis terjadi di
Makassar, Ujung Pandang, Sulawesi selatan pada tanggal 5 April 1950, di bawah
pimpinan Kapten Andi Azis. Andi Azis seorang mantan perwira KNIL yang baru saja
diterima masuk ke dalam APRIS.
Tujuan pemberontakan Andi Azis adalah untuk mempertahankan keutuhan Negara
Indonesia Timur (NIT). Sedangkan latar belakang pemberontakan Andi Azis karena
gerombolan yang dipimpinnya menolak masuknya pasukan-pasukan APRIS dari TNI.
Pada tanggal 5 April 1950, gerombolan Andi Azis mengadakan penyerangan dan
menduduki tempat-tempat vital dan menawan Panglima Teritorium Indonesia Timur
Letnan Kolonel A.J. Mokoginta.
TOKOHNYA
ANDI AZIS
ALASAN PEMBERONTAKKAN
Tujuan pemberontakan Andi Azis adalah
untuk mempertahankan keutuhan Negara Indonesia Timur (NIT). Sedangkan latar
belakang pemberontakan Andi Azis karena gerombolan yang dipimpinnya menolak
masuknya pasukan-pasukan APRIS dari TNI.
TANGGAL TERJADI
Pemberontakan Andi Azis terjadi di
Makassar, Ujung Pandang, Sulawesi selatan pada tanggal 5 April 1950, di bawah
pimpinan Kapten Andi Azis. Andi Azis seorang mantan perwira KNIL yang baru saja
diterima masuk ke dalam APRIS.
OPERASI PENYELESAIAN
· Setelah
ultimatum kepada Andi Aziz untuk menghadap ke Jakarta guna mempertanggung
jawabkan perbuatannya tidak dipenuhi maka pemerintah mengirim pasukan untuk
menumpas pemberontakan tersebut.
· Pemerintah
mengirim pasukan ekspedisi dibawah pimpinan Kolonel Alex Kawilarang dan terdiri
dari berbagai kesatuan dari ketiga angkatan dan kepolisian. Selanjutnya APRIS
segera bergerak dan menguasai Makassar dan sekitarnya. Pada April 1950 Andi
Aziz menyerahkan diri.
4. PRRI/ PERMESTA
PENGERTIAN
Pertentangan antara Pemerintah Pusat dan beberapa
Daerah yang berpokok pangkal pada masalah otonomi serta perimbangan keuangan
antara Pusat dan Daerah makin hari makin meruncing. Pembentukan dewan-dewan
seperti.
1. Dewan Banteng
2. Dewan Gajah
3. Dewan Manguni dan;
pengambilan kekuasaan pemerintah setempat
akhirnya pecah menjadi pemberontakan terbuka pada bulan Februari tahun 1958,
yang dikenal sebagai pemberontakan "PRRI-Semesta" .
Pemberontakan ini terjadi di tengah-tengah
pergolakan politik di Ibukota. Ketidakstabilan pemerintah, masalah korupsi,
perdebatan-perdebatan dalam konstituante, serta pertentangan dalam masyarakat
mengenai Konsepsi Presiden.
Pada tanggal 9 Januari 1958 suatu pertemuan
diselenggarakan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, yang dihadiri oleh Letnan
Kolonel Achmad Husein, Letnan Kolonel Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dachlan
Djambek, dan Kolonel Zulkifli Lubis. Sedangkan dari pihak sipil hadir antara
lain adalah M.Natsir, Sjarif Usman, Burhanuddin Harahap, dan Sjafruddin
Prawinegara. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan soal pembentukan pemerintah
baru serta hal-hal yang berhubungan dengan itu.
Keesokan harinya pada tanggal 10 Februari 1958
diadakan rapat raksasa di Padang, Letnan Kolonel Achmad Husein dalam pidatonya
di rapat raksasa itu memberi ultimatum kepada Pemerintah Pusat.
Ultimatum tersebut menuntut:
1.
Dalam waktu 5x24 jam Kabinet Djuanda menyerahkan mandat kepada Presiden
atau Presiden mencabut mandat Kabinet Juanda.
2.
Presiden menugaskan Drs.Moh.Hatta dan Sultan Hamengkubowono IX untuk
membentuk Zaken kabinet.
3.
Meminta kepada Presiden supaya kembali kepada kedudukannya sebagai Presiden
Konstitusional.
Sidang Dewan Menteri pada tanggal 11 Februari
mengambil keputusan untuk menolak ultimatum tersebut dan memecat dengan tidak
hormat Letnan Kolonel Achmad Husein, Kolonel Zulkifli Lubis, Kolonel Dachlan
Djambek, dan Kolonel Simbolon. Komando Daerah Militer Sumatra Tengah kemudian
dibekukan dan ditempatkan langsung di bawah KSAD.
Pemberontakan tersebut mencapai puncaknya ketika
pada tanggal 15 Februari 1958 Achmad Husein memaklumkan berdirinya
"Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia" (PRRI) berikut pembentukan
kabinetnya dengan Sjafruddin Prawinegara sebagai Perdana Menteri.
Proklamasi PRRI segera mendapat sambutan di
Indonesia bagian Timur. Pada tanggal 17 Februari 1958 Letnan Kolonel D.J Somba,
Komandan Daerah Militer Sulawesi Utara dan Tengah, menyatakan diri putus
hubungan dengan Pemerintah Pusat dan mendukung sepenuhnya PRRI. Gerakan di
Sulawesi ini dikenal dengan nama Permesta atau Gerakan Piagam Perjuangan
Semesta.
Dengan diproklamasikannya PRRI di Sumatra yang
diikuti oleh Permesta di Indonesia bagian Timur, Pemerintah memutuskan untuk
tidak membiarkan masalah ini berlarut-larut dan segera menyelesaikannya
dengan kekuatan senjata
NAMA TOKOHNYA
Dewan Banteng : Letkol. Ach. Husein
Dewan Gajah : Kol. Simbolon
Dewan Garuda : Kol. Barlian
Dewan Manguni : Kol. Ventje Sumual
ALASAN PEMBERONTAKKAN
Awal Pemberontakan Pemerintahan
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), dan PERMESTA sebenarnya sudah muncul
pada saat menjelang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) pada tahun
1949 dan pada saat bersamaan Divisi Banteng diciutkan sehingga menjadi kecil
dan hanya menyisakan satu brigade. Brigade ini pun akhirnya diperkecil lagi
menjadi Resimen Infanteri 4 TT I BB. Hal ini memunculkan perasaan kecewa dan
terhina pada para perwira dan prajurit Divisi IX Banteng yang telah berjuang
mempertaruhkan jiwa dan raganya bagi kemerdekaan Indonesia. Pada saat itu juga,
terjadi ketidakpuasan dari beberapa daerah yang berada di wilayah Sumatra dan
Sulawesi terhadap alokasi biaya pembangunan yang diberikan oleh pemerintah
pusat. Kondisi ini diperparah dengan tingkat kesejahteraan prajurit dan
masyarakat yang sangat rendah.
Ketidakpuasan tersebut akhirnya memicu
terbentuknya dewan militer daerah yaitu Dewan Banteng yang berada di daerah
Sumatera Barat pada tanggal 20 Desember 1956. Dewan ini diprakarsai oleh
Kolonel Ismail Lengah (mantan Panglima Divisi IX Banteng) bersama dengan
ratusan perwira aktif dan para pensiunan yang berasal dari Komando Divisi IX
Banteng yang telah dibubarkan tersebut. Letnan Kolonel Ahmad Husein yang saat
itu menjabat sebagai Komandan Resimen Infanteri 4 TT I BB diangkat menjadi
ketua Dewan Banteng. Kegiatan ini diketahui oleh KASAD dan karena Dewan Banteng
ini bertendensi politik, maka KASAD melarang perwira‑perwira AD untuk ikut dalam
dewan tersebut. Akibat larangan tersebut, Dewan Banteng justru memberikan
tanggapan dengan mengambil alih pemerintahan Sumatera Tengah dari Gubernur
Ruslan Muloharjo, dengan alasan Ruslan Muloharjo tidak mampu melaksanakan
pembangunan secara maksimal.
TERJADI PADA
Pada tanggal 9 Januari 1958 suatu pertemuan
diselenggarakan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, yang dihadiri oleh Letnan
Kolonel Achmad Husein, Letnan Kolonel Sumual, Kolonel Simbolon, Kolonel Dachlan
Djambek, dan Kolonel Zulkifli Lubis. Sedangkan dari pihak sipil hadir antara
lain adalah M.Natsir, Sjarif Usman, Burhanuddin Harahap, dan Sjafruddin
Prawinegara. Dalam pertemuan tersebut dibicarakan soal pembentukan pemerintah
baru serta hal-hal yang berhubungan dengan itu.
OPERASI PENYELESAIANNYA
1. Operasi
Tegas yang dipimpin Letkol Kaharudin Nasution. Tujuannya untuk menguasai daerah
Riau. Hasilnya Pekanbaru dapat dikuasai pada tanggal 12 Maret 1958.
2. Operasi
17 Agustus yang dipimpin Kolonel Achmad Yani. Tujuannya menguasai Sumatera
Barat. Hasilnya Padang dapat dikuasai tanggal 17 April 1958, menyusul
Bukittinggi sebulan kemudian.
3. Operasi
Saptamarga yang dipimpin Brigjen Jatikusumo. Tujuannya adalah mengamankan
wilayah Sumatera Utara.
4. Operasi
Sadar yang dipimpin Letkol Ibnu Sutowo. Tujuannya adalah
mengamankan wilayah Sumatera Selatan.


